12 Finalis MTQN XXXI 2026 Terpilih, Persiapan Teknis Final Dimatangkan

Daftar Isi


Dua belas peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) XXXI 2026 yang diselenggarakan di Kota Semarang berhasil lolos seleksi menuju babak final, menyingkirkan peserta dari 37 Provinsi Indonesia pada Jumat, (18/9/2026).

Setelah melalui babak penyisihan selama lima hari, sekitar 74 peserta dari 37 provinsi, hanya 12 finalis terbaik yang berhasil melaju ke babak puncak. Masing-masing tiga wakil dari kategori remaja putra, remaja putri, dewasa putra, dan dewasa putri. 

Para finalis ini mewakili sejumlah provinsi, di antaranya Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan DKI Jakarta.

Cabang qira'at yang dilombakan kali ini adalah qira'at sab'ah, dengan tiga imam qira'at yang menjadi acuan yaitu Nafi', Ibnu Katsir, dan Abu Amr al-Bashri.

Salah satu finalis dari Makassar, Agung, tidak menyangka bisa bertahan hingga final. Ia bekerja keras setiap hari dengan mengulang-ulang bacaannya. 

“Setiap hari saya mengulang-ulang yang sudah ditentukan panitia, latihan terus dari segi suara dan bacaan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan tantangan terbesar saat maju sebagai finalis.

“Tantangannya, menjaga kesehatan selama lomba, terus juga harus menjaga kualitas bacaan sama kualitas suara,” ujarnya.

Antusiasme publik pun tak terbendung. Meski kursi penonton sudah disiapkan oleh panitia, jumlah pengunjung yang membludak didominasi oleh siswa dari berbagai jenjang pendidikan yang membuat suasana venue menjadi lebih ramai dari perkiraan panitia.

Menjelang hari final, Meski tidak ada beban khusus, panitia mengaku sempat dilanda kekhawatiran menjelang pelaksanaan terutama terkait risiko gangguan teknis pada mikrofon di venue, yang dapat merugikan peserta dan berpotensi memicu protes. Kekhawatiran itu mereda setelah seluruh perangkat dipastikan berfungsi baik hingga acara usai.

Salah satu panitia penyelenggara, Keri Handayani, menjelaskan persiapan teknis mulai dilakukan panitia sejak tanggal 11 hingg 12 September. Pengecekan dilakukan berulang kali untuk memastikan seluruh perangkat, terutama mikrofon tersambung baik ke peserta maupun meja dewan hakim, mengingat lomba ini menitikberatkan penilaian pada kualitas suara. 

“Kita mengecek berulang-ulang sebelum acara dimulai supaya semuanya tersambung, kemudian tidak ada mic yang bermasalah, karena ini kan melombakan oleh suara,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan pemilihan Masjid Baiturrahman sebagai venue karena tempatnya cukup untuk menampung peserta, dewan hakim, panitia, maupun pengunjung.

“Tempatnya luas, bersih, dan juga dari segi pendinginnya lumayan nyaman karena menggunakan AC sentral,” ujarnya.

Ia berharap, Jawa Tengah selaku tuan rumah, bisa membuat peserta nyaman dari segi fasilitas yang disediakan oleh panitia.

“Kenyamanan selalu kita prioritaskan, mulai dari hotel, mobiling, dan juga fasilitas tempat lomba berlangsung,” ujarnya.

Penulis: Amalul Abyan

Editor: M. Alfin Nizar

Posting Komentar