Menakar Progresivitas Pesantren sebagai Agent of Change untuk Membentuk Santri Nahdliyin yang Melek Teknologi dan Digitalisasi di Era 2026

Daftar Isi

NAHNU.ID | Nahdliyin Nusantara - Nahdlatul Ulama yang merupakan salah satu marwah bagi para santri Indonesia utamanya pesantren-pesantren salaf, tentu saja dibangun dengan pondasi ideolog kuat. Meski demikian bukan tidak mungkin budaya tradisional yang diturunkan secara turun-temurun dari banyak generasi pendahulu ke generasi penerus memungkinkan adanya dinamisasi budaya bersifat kontemporer. Hal ini sebenarnya juga sesuai dengan tujuan dasar NU didirikan sebagai sebuah organisasi keagamaan yang bermakna kebangkitan kaum cendekiawan muslim. Tujuan tersebut sangat ditentukan melalui peran lembaga pesantren yang basis utamanya bertugas memproduksi generasi penerus dan tokoh-tokoh NU berkualitas pada masa mendatang.

Menilik dari tujuan NU yang sifatnya sedemikian progresif itulah kemudian muncul beberapa ketentuan yang perlu dipertanyakan. Yaitu sejauh mana pesantren mampu membuat formulasi khusus sehingga dapat membuat lingkungannya menjadi lembaga pendidikan yang mampu menjawab tuntutan masa depan tanpa harus kehilangan jati diri budaya tradisional para santrinya? Sebenarnya langkah ke tujuan tersebut telah dilakukan banyak pesantren di Indonesia melalui sikap akomodatifnya terhadap segala perubahan zaman termasuk budaya melek teknologi dan digitalisasi namun tetap menjadikan kajian agama sebagai rujukan utama, hanya saja usaha tersebut serasa belum maksimal.

Secara demografi bila ditinjau dari data BPS tahun 2026, jumlah anak kelompok usia 0-9 tahun sebanyak 44,77 juta jiwa, sedangkan usia 10-19 tahun sebanyak 44,07 juta jiwa. Kelak pada 2060 mereka yang usianya 0-10 tahun akan berusia 35-45 tahun sementara yang usia 10-20 tahun berusia 46-54 tahun dan pada usia tersebut mereka diharapkan mampu memberikan peran penting bagi keberlangsungan kemajuan nasional. Beberapa anak tersebut tentu saja ada yang akan menjadi santri nahdliyin dan mengenal lingkungan pesantren. Melalui lingkungan inilah kemudian generasi santri nahdliyin diharapkan menjadi generasi emas yang cerdas, produktif, inovatif, serta berperadaban unggul.

Potensi kuantitas manusia Indonesia berada pada posisi ke-4 dalam daftar negara berpopulasi tertinggi, demikian pula potensi kekayaan alamnya. Lembaga Survey International Goldman Sachs memprediksi Indonesia akan berada dalam 10 besar negara dengan ekonomi termaju pada tahun 2050 bersama China, India (dan masih di atas Jepang maupun Korea Selatan). Laporan lain dari Mc-Kinsey Global Institute dalam Archipelago Economy: Understanding Indonesia's Potential tahun 2012 melaporkan bahwa 4 tahun ke depan, tepatnya tahun 2030 Indonesia akan menjadi pusat perekonomian dunia nomor tujuh. Kemampuan Indonesia dari segi demografi tersebut, selayaknya dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi stakeholder terkait baik itu pihak Eksekutif (Kabinet), NU (PBNU), maupun lembaga pesantren menghadapi era globalisasi hingga mempersiapkan generasi emas para santri nahdliyin setidaknya pada dasawarsa ke depan.

Santri Nahdliyin dengan Teknologi dan Digitalisasi di Era 2026

Tepat pada tahun 2026 ini, termasuk di Indonesia tonggak sejarah demografi berubah secara signifikan. Kelompok termuda dari Generasi Milenial (kelahiran 1996) resmi menyentuh usia 30 tahun. Sehingga dengan kalkulasi ini, seluruh Milenial (1981–1996) telah meninggalkan masa usia 20-an, membawa pergeseran fundamental pada tatanan kerja, pola konsumsi, hingga struktur sosial global.

Secara umum, data nasional dari Kementerian Agama RI mencatat jumlah total santri di Indonesia berada di kisaran 2,5 juta jiwa hingga lebih dari 6 juta jiwa tergantung pada cakupan jenis lembaga pendidikan keagamaan (seperti pondok pesantren, madrasah diniyah, dan lembaga Al-Qur'an) yang terdata di dalam sistem EMIS. Namun pemilahan secara spesifik demografi santri nahdliyin belum terpublikasikan sebagai statistik khusus. Tentu saja hal tersebut dapat menjadi tugas PBNU sebagai organisasi NU terbesar untuk membuat ruang pemantauan sekaligus pengembangan potensi yang dimiliki para santri nahdliyin.

Hubungan interaksi santri nahdliyin di Indonesia dengan fungsi teknologi dan digitalisasi sampai pada tahun 2026 masih bersifat adaptif. Adaptasi teknologi bagi para santri usia remaja di lingkungan pesantren kebanyakan dinamis dan bertahap. Terdapat 28.000 pesantren dari jumlah total 42.000 pesantren di Indonesia berafiliasi langsung dengan Nahdlatul Ulama (NU) di bawah naungan Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI PBNU). Sebanyak 28.000 pesantren ini kemudian perlu dorongan dengan pengelolaan sistem yang matang agar tidak semakin tertinggal menghadapi era teknologi Artificial Intelligence (AI).

Menilik dari sisi kemajuan digitalisasi misalnya, PBNU sebenarnya telah meluncurkan platform online bernama Digdaya Pesantren (Portal Pesantren NU) untuk mengintegrasikan ekosistem teknologi. Pesantren-pesantren tersebut menggunakan teknologi digitalisasi informasi untuk membuka akses data profil, kurikulum, fasilitas, hingga pendaftaran santri baru bagi publik. Terdata lebih dari 2.200 pesantren NU berhasil tervalidasi masuk ke dalam sistem database digital namun juga ini artinya baru 75% dari jumlah total seluruh pesantren nahdliyin yang terlibat. Sedangkan 600 pesantren yang lain masih belum terjamah.

Tidak hanya itu, santri nahdliyin di beberapa pondok pesantren telah menggunakan aplikasi tata kelola (e-Pesantren) untuk sistem pembayaran digital (fintech), absensi berbasis sidik jari/kartu, serta laporan perkembangan santri yang diakses orang tua via aplikasi. Sementara yang lain dengan posisi lebih baik, pesantren modern NU (seperti pesantren di lingkup Tambakberas, Jombang) telah menerapkan sistem identifikasi berbasis RFID, Command Center dengan pantauan CCTV terpusat, hingga pengenalan teknologi robotik dan drone. 

Melihat dari sisi kemajuan teknologi, semangat santri nahdliyin untuk berproges mengikuti perkembangan zaman berhasil memunculkan Ngaji Tech. Ngaji Tech merupakan gerakan dan semangat di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) untuk mempelajari teknologi informasi dan literasi digital sebagai bentuk jihad melawan kebodohan. Ngaji Tech memungkinkan santri nahdliyin mengenal lingkungan yang cakap digital, mandiri secara teknologi, serta siap menghadapi tantangan era industri modern.

Kemudian muncul juga Kang Santri AI dari upaya Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU sebagai patform kecerdasan buatan berbasis literatur pesantren. Kang Santri AI menggunakan lebih dari 7.000 kitab kuning sebagai basis pemberdayaan yang selama ini menjadi rujukan utama pendidikan pesantren. Tujuannya tentu untuk memudahkan masyarakat mengakses referensi keislaman secara cepat, akurat, dan berbasis literatur klasik. Munculnya Digdaya Pesantren, e-Pesantren, Ngaji Tech, hingga Kang Santri AI yang akhir-akhir ini viral setidaknya dapat menjadi sedikit takaran terkait hubungan interaksi santri nahdliyin di Indonesia dengan fungsi teknologi dan digitalisasi.[]


Penulis: Resza Mustafa, Penulis, Penerjemah, serta Penerbit di LTN MWC NU Margoyoso, Pati

Posting Komentar