Muktamar ke-35 NU di Jombang Sahkan KH Miftachul Akhyar Sebagai Rais Aam PBNU Periode Kedua
Daftar Isi
![]() |
| KH Miftachul Akhyar terpilih kembali sebagai Rais Aam PBNU periode 2026-2031 pada Muktamar ke-35 NU di Jombang. (dok) |
JOMBANG, NAHNU.ID | Serambi Nahdliyin NU – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) resmi menetapkan kembali KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031.
Keputusan tersebut disepakati melalui mekanisme musyawarah mufakat oleh keanggotaan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam forum muktamar yang berlangsung di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 31 Agustus 2026.
Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar dinilai sebagai kelanjutan kepemimpinan spiritual NU yang berakar kuat pada tradisi pesantren salaf.
Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar dinilai sebagai kelanjutan kepemimpinan spiritual NU yang berakar kuat pada tradisi pesantren salaf.
Sebagai sosok ulama kharismatik, ia kembali dipercaya memegang kendali kepemimpinan tertinggi di jajaran Syuriyah PBNU setelah sebelumnya mengemban amanah yang sama pada periode 2021-2026.
Berdasarkan laporan publikasi resmi Muktamar ke-35 NU, Kiai Miftach mengawali kiprah organisasinya secara organik dari tingkat cabang.
Berdasarkan laporan publikasi resmi Muktamar ke-35 NU, Kiai Miftach mengawali kiprah organisasinya secara organik dari tingkat cabang.
Beliau merintis pengabdian strukturalnya sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya pada periode tahun 2000 hingga 2005.
Keuletan dan integritasnya membuat para kiai sepuh kemudian memercayainya untuk memegang posisi yang lebih tinggi di tingkat wilayah sebagai Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur selama dua periode berturut-turut, yaitu pada tahun 2007-2013 dan 2013-2018.
Di tingkat nasional, kapasitas kepemimpinannya semakin diakui secara luas. Ia terpilih sebagai Wakil Rais Aam PBNU periode 2015-2020 mendampingi KH Ma'ruf Amin.
Di tingkat nasional, kapasitas kepemimpinannya semakin diakui secara luas. Ia terpilih sebagai Wakil Rais Aam PBNU periode 2015-2020 mendampingi KH Ma'ruf Amin.
Ketika KH Ma'ruf Amin maju dalam pemilihan wakil presiden, Kiai Miftach ditunjuk menjadi Penjabat (Pj) Rais Aam PBNU.
Kepemimpinannya mencapai puncak struktural saat Muktamar ke-34 di Lampung menetapkannya secara mufakat sebagai Rais Aam PBNU periode 2021-2026.
Selain memimpin NU, integritas Kiai Miftach juga diakui oleh organisasi kemasyarakatan Islam di tingkat nasional melalui amanah sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020-2025.
Selain memimpin NU, integritas Kiai Miftach juga diakui oleh organisasi kemasyarakatan Islam di tingkat nasional melalui amanah sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020-2025.
Namun, demi mematuhi ketentuan muktamar NU yang melarang Rais Aam merangkap jabatan, ia memilih melepas jabatan Ketua Umum MUI tersebut untuk berkonsentrasi penuh pada khidmah di NU.
Secara latar belakang, KH Miftachul Akhyar lahir di Surabaya pada 30 Juni 1953 di tengah lingkungan keagamaan yang kental dengan khazanah keilmuan tinggi.
Secara latar belakang, KH Miftachul Akhyar lahir di Surabaya pada 30 Juni 1953 di tengah lingkungan keagamaan yang kental dengan khazanah keilmuan tinggi.
Ia merupakan putra kesembilan dari 13 bersaudara dari pasangan KH Abdul Ghani dan Nyai Hj. Siti Ashfiyah.
Sang ayah merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya, yang dikenal memiliki hubungan keilmuan erat dengan salah satu tokoh besar NU, KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo.
Pondasi keilmuan Kiai Miftach terbentuk kokoh di bawah asuhan langsung ayahnya sebelum ia melanjutkan pengembaraan spiritual ke berbagai pesantren besar di Pulau Jawa.
Pondasi keilmuan Kiai Miftach terbentuk kokoh di bawah asuhan langsung ayahnya sebelum ia melanjutkan pengembaraan spiritual ke berbagai pesantren besar di Pulau Jawa.
Ia tercatat pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso di Jombang, dua institusi yang secara historis erat kaitannya dengan kelahiran NU.
Perjalanan intelektualnya berlanjut ke Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, yang dikenal dengan ketatnya penguasaan ilmu fiqih, serta Pondok Pesantren Lasem di Jawa Tengah.
Perjalanan intelektualnya berlanjut ke Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, yang dikenal dengan ketatnya penguasaan ilmu fiqih, serta Pondok Pesantren Lasem di Jawa Tengah.
Di Lasem, kecerdasan dan daya kritisnya memikat hati sang guru, KH Masduqie Allasimy, yang kemudian mengambilnya sebagai menantu.
Setelah menyelesaikan masa belajarnya, ia mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya.
Setelah menyelesaikan masa belajarnya, ia mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya.
Pesantren ini bermula dari pengajian kecil di kawasan Kedung Tarukan yang dirintisnya untuk menjawab kebutuhan rohani masyarakat sekitar, yang kemudian berkembang pesat dan bertahan sebagai pusat pendidikan Islam salaf di tengah modernisasi Surabaya.
Muktamar ke-35 NU sendiri diselenggarakan pada 27 hingga 31 Agustus 2026 di Jombang, Jawa Timur, dengan mengusung tema "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa".
Muktamar ke-35 NU sendiri diselenggarakan pada 27 hingga 31 Agustus 2026 di Jombang, Jawa Timur, dengan mengusung tema "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa".
Penetapan kembali KH Miftachul Akhyar dalam muktamar ini diharapkan membawa kepemimpinan yang ikhlas dan mendalam secara keilmuan untuk mengayomi seluruh warga Nahdliyin. []

Posting Komentar