Profil Pesantren Tebuireng Jombang: Sejarah & Modernisasi
| Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. (wikimedia.org) |
Pondok Pesantren Tebuireng Jombang adalah lembaga pendidikan Islam terkemuka yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari pada 1899 M di Jombang. Pesantren ini istimewa karena menjadi pelopor pembaharuan pendidikan Islam yang memadukan tradisi kitab kuning dengan sains modern, sekaligus pusat pergerakan kebangsaan dan tempat lahirnya Nahdlatul Ulama.
Sejarah dan Awal Pendirian oleh KH. M. Hasyim Asy'ari
| Logo Pesantren Tebuireng Jombang. (wikimedia.org) |
Perjalanan panjang Pondok Pesantren Tebuireng berakar dari sebuah keputusan berani seorang ulama muda. Sebagaimana dicatat dalam dokumen Profil Komprehensif Pesantren Tebuireng Jombang, pesantren ini resmi didirikan pada tanggal 26 Rabi'ul Awal 1317 Hijriah, yang bertepatan dengan tanggal 3 Agustus 1899 Masehi oleh Hadratussyaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari. Lokasi geografisnya membentang di Jalan Irian Jaya No. 10, Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Sebagaimana terekam dalam tayangan dokumenter Profil Pondok Pesantren Tebuireng (Unofficial), wilayah Dusun Tebuireng pada akhir abad ke-19 dikenal sebagai daerah kelam yang menjadi pusat perjudian, perampokan, pencurian, hingga pelacuran. Di tengah lingkungan yang penuh tantangan sosial tersebut, K.H. M. Hasyim Asy'ari mengawali dakwahnya dengan mendirikan bangunan kecil berukuran 6x8 meter dari anyaman bambu—bekas warung pelacuran—yang disekat menjadi dua ruangan untuk tempat tinggal dan musholla.
"Awal mulanya, kegiatan mengaji hanya diikuti oleh 8 orang santri. Namun, dalam kurun waktu tiga bulan, jumlah tersebut melonjak menjadi 28 orang. Secara bertahap tapi pasti, kehadiran pesantren ini mengikis habis perilaku negatif masyarakat sekitar dan mengubah tata kehidupan Tebuireng menjadi lebih beradab."
Menurut riset Nurul Fadilah dan Muhammad Yudha Ardiansyah dalam Jurnal Manajemen Dakwah, keberhasilan perintisan Tebuireng tidak lepas dari rekam jejak intelektual K.H. M. Hasyim Asy'ari yang mendalam. Beliau menimba ilmu di berbagai pesantren di Jawa hingga berguru selama tujuh tahun di tanah suci Mekkah. Dari pesantren terpencil di Jombang ini, berkembanglah pilar utama pendidikan Islam Nusantara yang hingga kini telah memiliki belasan lembaga formal dan puluhan pesantren cabang di seluruh Indonesia.
Sistem Pendidikan, Modernisasi Kurikulum, dan Etika Keilmuan
Perkembangan sistem pembelajaran di Tebuireng mencerminkan dialektika yang dinamis antara pelestarian tradisi dan keterbukaan terhadap modernitas. Menurut peneliti Bulhayat dalam jurnal AL MIKRAJ, Tebuireng memegang teguh prinsip filosofis al-Muḥāfaẓah ‘alā al-Qadīm al-Ṣāliḥ wa al-Akhdu bi al-Jadīd al-Aṣlaḥ, yakni memelihara tradisi lama yang baik dan mengadopsi hal-hal baru yang lebih unggul.
1. Transformasi dari Metode Tradisional ke Sistem Klasikal
Sebagaimana dijelaskan dalam Buku Panduan Santri Tebuireng, pada masa-masa awal, pengajaran dilaksanakan murni dengan metode tradisional seperti sorogan (santri membaca kitab di hadapan kiai), bandongan atau wetonan (kiai membaca dan menerangkan kitab sementara santri menyimak), serta halaqah. Kenaikan tingkat tidak diukur dari tahun ajaran, melainkan dari penyelesaian (khatam) kitab-kitab tertentu.
Namun, sebagaimana diulas oleh Khurrotul Aini dalam tesisnya di Digilib UIN Sunan Ampel Surabaya, Tebuireng mencatatkan terobosan sejarah pada tahun 1916 ketika K.H. Ma'shum Ali bersama K.H. M. Hasyim Asy'ari memperkenalkan sistem persekolahan berjenjang melalui Madrasah Salafiyah Syafi'iyah. Tebuireng menjadi pesantren tradisional pertama di Jawa yang memasukkan pelajaran umum dan sains—seperti ilmu berhitung, bahasa Melayu, ilmu bumi, dan huruf Latin—ke dalam kurikulumnya.
2. Panca Jiwa: Lima Prinsip Dasar Tebuireng
Dalam ranah pembentukan karakter, Tebuireng menanamkan semboyan utama yang dirumuskan oleh Pengasuh ke-7, K.H. Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Sebagaimana dipaparkan dalam Jurnal Dirosah Islamiyah, nilai-nilai ini disarikan langsung dari kitab karangan Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy'ari berjudul Adabul 'Alim wal Muta'alim. Lima Prinsip Dasar Tebuireng tersebut meliputi:
- Ikhlas: Meniatkan seluruh aktivitas belajar dan pengabdian semata-mata karena Allah SWT.
- Jujur: Memegang teguh kebenaran dalam kata dan perbuatan.
- Tanggung Jawab: Siap menjalankan amanah keilmuan dan kebangsaan.
- Kerja Keras: Bekerja dan belajar dengan tekun serta pantang menyerah.
- Toleransi (Tasamuh): Menghargai perbedaan pendapat dan menjaga keharmonisan sesama.
3. Ekosistem Pendidikan Modern yang Komprehensif
Berdasarkan pustaka resmi pesantren, saat ini Yayasan Hasyim Asy'ari menaungi unit pendidikan yang sangat lengkap dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi:
- Pendidikan Dasar & Menengah Pertama: SDI Ir. Soedigno, MTs Salafiyah Syafi'iyah (unit sekolah tertua, resmi terakreditasi sejak 1951), SMP A. Wahid Hasyim, MTs Sains Salahuddin Wahid, dan SMP Sains Tebuireng 2.
- Pendidikan Menengah Atas & Kejuruan: MA Salafiyah Syafi'iyah, SMA A. Wahid Hasyim, MA Sains Tebuireng Putri, SMK Plus Khoiriyah Hasyim (fokus multimedia & teknologi), serta Madrasah Mu'allimin Hasyim Asy'ari (lembaga takhassus 6 tahun pencetak calon ulama).
- Pesantren Sains (Trensains): Berlokasi di Jombok, Ngoro, Jombang. Lembaga ini digagas oleh K.H. Agus Purwanto, D.Sc., bersama Gus Sholah untuk memadukan pemahaman Al-Qur'an (khususnya ayat-ayat kauniyah) dengan sains kealaman (fisika teoritis).
- Pendidikan Tinggi: Ma'had Aly Hasyim Asy'ari yang menyelenggarakan program studi S-1 Takhassus Hadits Wa Ulumuhu (Spesialisasi Hadis dan Ilmu Hadis) guna melahirkan ulama mutafaqqih, serta Universitas Hasyim Asy'ari (UNHASY).
- Pondok Putri Tebuireng: Didirikan secara resmi pada tahun 2003/2004 oleh K.H. M. Yusuf Hasyim, menyelenggarakan program khusus Tahfidz Al-Qur'an, Pendalaman Kitab Kuning (PKK), serta Program Bahasa Arab dan Inggris.
Genealogi Kepemimpinan dan Tokoh-Tokoh Utama
Evolusi Tebuireng tidak terlepas dari estafet kepemimpinan para kiai dan tokoh nasional yang menahkodainya dari masa ke masa:
- Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy'ari (1899–1947): Pendiri utama Tebuireng, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pahlawan nasional, dan penyusun kitab-kitab monumental seperti Adab al-'Alim wa al-Muta'allim dan Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah.
- K.H. A. Wahid Hasyim (1947–1950): Putra Hadratussyaikh, perumus Pancasila (anggota BPUPKI/PPKI), Menteri Agama RI pertama, dan pahlawan nasional yang memelopori modernisasi kelembagaan madrasah.
- K.H. Abdul Karim Hasyim (1950–1951), K.H. Achmad Baidlowi (1951–1952), & K.H. Abdul Kholiq Hasyim (1953–1965): Meneruskan tata kelola kepengasuhan dan mengukuhkan tradisi musyawarah keilmuan.
- K.H. M. Yusuf Hasyim / Pak Ud (1965–2006): Membawa Tebuireng masuk ke era modernisasi kelembagaan hukum dengan mendirikan Yayasan Hasyim Asy'ari pada tahun 1967 bersama K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Bu Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim. Beliau juga mendirikan Ma'had Aly dan Pondok Putri.
- K.H. Salahuddin Wahid / Gus Sholah (2006–2020): Tokoh hak asasi manusia dan perekat kebangsaan yang merumuskan Lima Prinsip Dasar Tebuireng, mendirikan Trensains, Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT), serta memodernisasi infrastruktur fisik pesantren.
- K.H. Abdul Hakim Mahfudz / Gus Kikin (2020–Sekarang): Pengasuh ke-8 yang memimpin Tebuireng saat ini. Beliau secara konsisten menjaga tradisi pengajian kilatan kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim setiap bulan Ramadan serta pengajian rutin mingguan kitab-kitab Hadratussyaikh.
Kontribusi Sosial, Kebangsaan, dan Ekosistem Modern
Sebagaimana diulas oleh Muhim Matul Kalafiya dkk. dalam JIMAD - Jurnal Ilmiah Mutiara Pendidikan, Pesantren Tebuireng sejak awal berdiri tidak hanya berfungsi sebagai wadah transmisi ilmu keagamaan, melainkan juga sebagai benteng pertahanan budaya dan pusat perjuangan kebangsaan.
Pada masa perjuangan kemerdekaan, Tebuireng menjadi markas pergerakan politik melawan penjajah Belanda dan Jepang. Dari pesantren inilah meletup semangat perjuangan yang melahirkan fatwa dan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Selain itu, Tebuireng menjadi rahim dari lahirnya organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di dunia, yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang didirikan pada tahun 1926 oleh K.H. M. Hasyim Asy'ari bersama K.H. Abdul Wahhab Hasbullah dan K.H. Bisri Syansuri.
Dalam ranah sosial-ekonomi dan kesehatan modern, Tebuireng mengoperasikan berbagai unit pendukung terpadu:
- Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT): Didirikan pada tahun 2007 dan resmi menjadi Lembaga Amil Zakat (LAZ), LSPT mengelola dana zakat, infak, dan sedekah untuk pemberdayaan kaum dhuafa, beasiswa pendidikan, hingga aksi kemanusiaan internasional seperti penyaluran bantuan infak Rp550 juta untuk Palestina melalui BAZNAS RI.
- Pusat Kesehatan Pesantren (Puskestren) As-Salamah: Berdiri sejak 1987 (berawal dari UKP hasil kerja sama dengan Universitas Brawijaya) dan diperluas melalui kerja sama dengan Konsulat Jenderal Jepang hingga diresmikan oleh Kemenkes RI.
- Jaringan Pesantren Cabang: Tebuireng kini telah memiliki 18 cabang yang tersebar di wilayah Nusantara, seperti di Ngoro Jombang, Riau, Jakarta, Cianjur (berkolaborasi dengan IPB dalam bidang agrobisnis), Sulawesi Utara, hingga Ambon.
- Komunikasi Digital: Menyebarkan dakwah inklusif melalui portal resmi tebuireng.online, kanal penerimaan santri psb.tebuireng.online, penerbitan Pustaka Tebuireng, serta saluran YouTube resmi untuk penyiaran pengajian kitab secara langsung.
Melalui perpaduan kokoh antara ketahanan nilai spiritual, kurikulum yang adaptif terhadap sains, dan profesionalisme manajemen di bawah Yayasan Hasyim Asy'ari, Pesantren Tebuireng Jombang terus memperkokoh posisinya sebagai mercusuar pendidikan Islam Nusantara yang mencetak generasi pemimpin berakhlak mulia di era global.
Daftar Bacaan
Aini, K. (2018). Pengembangan program pendidikan pesantren berdasarkan bakat minat santri (Tesis magister, UIN Sunan Ampel Surabaya). Digilib UIN Sunan Ampel Surabaya.Fadilah, N., & Ardiansyah, M. Y. (2024). Pemikiran Manajemen Dakwah K.H Hasyim Asy'ari. Jurnal Manajemen Dakwah, 2(2), 121–140.
Kalafiya, M. M., Nurrahmawati, I. R., Husen, A., Ramadhani, H. P., & Aryasatya, M. H. (2026). Kontribusi Pemikiran Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari terhadap Pendidikan Islam Nusantara melalui Pesantren Tebuireng (1899-1947 M). JIMAD: Jurnal Ilmiah Mutiara Pendidikan, 4(3), 1–15.
Tim Penulis Pesantren Tebuireng. (2017). TEBUIRENG - Buku Panduan Santri Tebuireng. Jombang: Pesantren Tebuireng.
Tim Penyusun. (2023). Profil Komprehensif Pesantren Tebuireng Jombang: Modernisasi Pendidikan Islam, Genealogi Intelektual, dan Transformasi Kelembagaan. Jombang: Pesantren Tebuireng.
Wafa, A., dkk. (2024). Penerapan Lima Prinsip Dasar Tebuireng terhadap Pembentukan Karakter Santri di Pesantren Tebuireng Jombang. Jurnal Dirosah Islamiyah, 6(3), 1142–1152.
Posting Komentar