Sikapi Perkembangan AI dalam Pendidikan, PAC ISNU Tirto Pekalongan Gelar Webinar "Tugas Pendidik Ngapain?"
Daftar Isi
![]() |
| Rektor INISNU Temanggung yang juga bertindak sebagai narasumber, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd. saat webinar pendidikan bersama PAC ISNU Tirto Pekalongan. |
Kegiatan ini bertujuan untuk merefleksikan masa depan dunia pendidikan serta membahas peran pendidik di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI yang kini mampu menulis, menerangkan materi, memberikan umpan balik, mempersonalisasi pembelajaran, hingga melakukan asesmen awal terhadap peserta didik.
Ketua PAC ISNU Kecamatan Tirto, Khairul Anwar, M.E., menyatakan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan perlu disikapi sebagai momentum penting untuk merefleksikan masa depan dunia pendidikan serta peran guru dan dosen.
Ketua PAC ISNU Kecamatan Tirto, Khairul Anwar, M.E., menyatakan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan perlu disikapi sebagai momentum penting untuk merefleksikan masa depan dunia pendidikan serta peran guru dan dosen.
Menurutnya, meskipun AI memiliki kemampuan luar biasa, proses pendidikan tidak akan pernah bisa direduksi menjadi sekadar transfer pengetahuan.
“AI memang telah mampu melakukan banyak pekerjaan yang sebelumnya identik dengan tugas manusia, termasuk menulis, membantu mengajar, hingga melakukan penilaian. Namun pendidikan tidak pernah hanya berbicara tentang transfer pengetahuan. Ada nilai, karakter, keteladanan, empati, dan tanggung jawab moral yang tetap membutuhkan kehadiran manusia,” ujar Khairul Anwar.
Senada dengan hal itu, Rektor INISNU Temanggung yang juga bertindak sebagai narasumber, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menjelaskan bahwa Artificial Intelligence in Education (AIEd) atau kecerdasan buatan dalam pendidikan seharusnya diposisikan sebagai alat untuk memperkuat kapasitas pendidik, bukan untuk menggantikan mereka.
“AI memang telah mampu melakukan banyak pekerjaan yang sebelumnya identik dengan tugas manusia, termasuk menulis, membantu mengajar, hingga melakukan penilaian. Namun pendidikan tidak pernah hanya berbicara tentang transfer pengetahuan. Ada nilai, karakter, keteladanan, empati, dan tanggung jawab moral yang tetap membutuhkan kehadiran manusia,” ujar Khairul Anwar.
Senada dengan hal itu, Rektor INISNU Temanggung yang juga bertindak sebagai narasumber, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menjelaskan bahwa Artificial Intelligence in Education (AIEd) atau kecerdasan buatan dalam pendidikan seharusnya diposisikan sebagai alat untuk memperkuat kapasitas pendidik, bukan untuk menggantikan mereka.
Ia menerangkan bahwa AI memiliki keunggulan tinggi dalam menangani pekerjaan-pekerjaan repetitif seperti menjawab pertanyaan, membuat latihan soal, merangkum materi pembelajaran, serta memberikan asesmen awal.
“Pertanyaan masa depan bukan lagi AI atau guru, melainkan guru seperti apa yang mampu memanfaatkan AI untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih manusiawi,” tegas Ibda.
Ia menambahkan bahwa guru dan dosen memiliki keunggulan personal yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi, terutama dalam membangun relasi emosional, memberikan empati, menjadi teladan hidup, serta menanamkan nilai dan karakter kepada peserta didik.
Sementara itu, narasumber kedua yang merupakan Ketua PAC Muslimat NU Tirto, Dr. Hj. Mufasiroh, M.S.I., menekankan bahwa transformasi digital di dunia pendidikan tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai sekadar penggunaan perangkat keras dan aplikasi digital.
“Pertanyaan masa depan bukan lagi AI atau guru, melainkan guru seperti apa yang mampu memanfaatkan AI untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih manusiawi,” tegas Ibda.
Ia menambahkan bahwa guru dan dosen memiliki keunggulan personal yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi, terutama dalam membangun relasi emosional, memberikan empati, menjadi teladan hidup, serta menanamkan nilai dan karakter kepada peserta didik.
Sementara itu, narasumber kedua yang merupakan Ketua PAC Muslimat NU Tirto, Dr. Hj. Mufasiroh, M.S.I., menekankan bahwa transformasi digital di dunia pendidikan tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai sekadar penggunaan perangkat keras dan aplikasi digital.
Menurutnya, digitalisasi harus dipahami sebagai perubahan budaya belajar dan mengajar secara menyeluruh yang menuntut kesiapan sumber daya manusia.
“Pendidik memiliki peran penting sebagai agen perubahan. Guru tidak lagi hanya menjadi pemberi informasi, tetapi harus mampu menjadi fasilitator yang membimbing peserta didik dalam memahami materi sekaligus menyaring informasi secara bijak,” jelas Mufasiroh.
Mufasiroh juga mengingatkan bahwa digitalisasi pendidikan membawa peluang sekaligus tantangan yang besar.
“Pendidik memiliki peran penting sebagai agen perubahan. Guru tidak lagi hanya menjadi pemberi informasi, tetapi harus mampu menjadi fasilitator yang membimbing peserta didik dalam memahami materi sekaligus menyaring informasi secara bijak,” jelas Mufasiroh.
Mufasiroh juga mengingatkan bahwa digitalisasi pendidikan membawa peluang sekaligus tantangan yang besar.
Akses informasi yang semakin luas, inovasi pembelajaran, serta fleksibilitas belajar harus diimbangi dengan peningkatan literasi digital, kemampuan pedagogik berbasis teknologi, serta kesadaran mendalam terhadap etika dan keamanan digital.
Webinar yang dimoderatori oleh Yulis Indriyani ini diharapkan dapat membuka wawasan para pendidik, mahasiswa, serta masyarakat luas agar tidak sekadar mengekor perkembangan teknologi.
Webinar yang dimoderatori oleh Yulis Indriyani ini diharapkan dapat membuka wawasan para pendidik, mahasiswa, serta masyarakat luas agar tidak sekadar mengekor perkembangan teknologi.
Diskusi ini menekankan pentingnya memastikan bahwa kemajuan teknologi kecerdasan buatan tetap berada di bawah kendali nilai, etika, dan tanggung jawab moral manusia. Adapun seluruh rangkaian kegiatan ini dapat terlaksana berkat dukungan dari TBM Hidup Punya Cerita. []

Posting Komentar