Profil Bimo Junandamurti: Dari Kegemaran Visual Hingga Cita-cita Creative Director.

Daftar Isi
foto Bimo Junandamurti

SEMARANG — Mahasiswa Teknologi Pendidikan (TP) Universitas Negeri Semarang (UNNES), Bimo Junandamurti, membagikan pandangannya mengenai strategi menavigasi minat di industri kreatif serta rencana pengembangan karir masa depannya. Langkah tersebut mencakup penetapan target posisi creative director hingga rencana melanjutkan studi ke jenjang magister.

Bimo menargetkan posisi creative director di sebuah perusahaan sebagai tujuan akhir karirnya setelah menuntaskan studi sarjana. Untuk mendukung pencapaian target tersebut, ia berencana melanjutkan pendidikan S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada bidang media. Ia memilih ITB ketimbang memanfaatkan jalur fast track di UNNES karena telah mengidamkan kampus tersebut sejak jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) serta mencari program studi yang sejalur dengan tujuan karirnya. Tekad melanjutkan pendidikan ini sejalan dengan semangat thalabul ilmi (menuntut ilmu) yang sejak lama dijunjung dalam tradisi pesantren dan NU.

Ketertarikan Bimo pada bidang visual dan media mulai bertumbuh sejak pandemi COVID-19 akibat kegemarannya menyaksikan tayangan animasi. Melalui tayangan tersebut, ia mulai mempelajari teknis pembuatan animasi serta perancangan karakter visual sebagai sarana menyalurkan ide-ide kreatifnya. Kegemaran terhadap hal-hal bernuansa visual tersebut diakuinya telah dimiliki sejak kecil melalui aktivitas menggambar.

Dalam proses menggali ide dan referensi desain, Bimo kerap memanfaatkan platform digital “Pinterest” untuk memperoleh pencerahan visual. Selain pencarian terencana di media sosial, ide-ide kreatif juga diakuinya kerap muncul secara spontan dalam aktivitas sehari-hari.

Terkait proses menemukan minat, Bimo menekankan pentingnya melakukan evaluasi diri guna mengenali potensi dan hal yang paling diminati tanpa adanya paksaan. Ia menegaskan bahwa minat tidak boleh dipaksakan dengan menyatakan, “Karena mungkin passion itu tidak bisa dipaksakan, Mas. Karena yang dipaksakan itu pasti akan menyakitkan”.

Bagi generasi muda, termasuk para santri dan pemuda nahdliyin yang sedang mencari arah berkarya di era digital, kisah Bimo menjadi pengingat bahwa menemukan jalan hidup adalah proses panjang yang perlu dijalani dengan jujur pada diri sendiri.

Posting Komentar