Sejarah LP Ma'arif NU: 97 Tahun Menjaga Tradisi, Memelopori Modernisasi Pendidikan Islam Indonesia

Daftar Isi
Logo resmi Harlah ke-97 LP Ma'arif NU. (maarifnu.or.id)

NAHNU.ID | Nahdliyin Nusantara – Memasuki usia ke-97 tahun—hitung rentang historis sejak disahkannya wadah pendidikan formal dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-4 di Semarang pada 19 September 1929—Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif Nahdlatul Ulama telah menorehkan rekam jejak panjang dalam panggung peradaban bangsa. Perjalanan hampir satu abad ini bukan sekadar deretan angka statistik, melainkan manifestasi transformasi sosial-keagamaan dari gerakan intelektual para ulama menjadi pilar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari ruang-ruang kelas sederhana di daerah pedesaan hingga perguruan tinggi terkemuka, LP Ma'arif NU berhasil membuktikan bahwa pendidikan Islam berbasis tradisi mampu berjalan seiring dengan kemajuan sains dan teknologi modern.

LP Ma'arif NU merupakan perangkat departementasi atau badan otonom di bawah naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang bertugas mengelola dan mengeksekusi kebijakan jam'iyyah di bidang pendidikan dan pengajaran formal. Secara strategis, LP Ma'arif NU mengondisikan dan mengoordinasikan puluhan ribu satuan pendidikan yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara, mencakup jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD/RA), Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA), hingga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU).

Sebagaimana dipaparkan oleh Sembodo Ardi Widodo dalam penelitiannya mengenai kerangka keilmuan pendidikan Nahdlatul Ulama, LP Ma'arif NU memegang fungsi vital sebagai pelaksana modernisasi pendidikan NU yang sistematis dalam aspek perencanaan, kurikulum, dan evaluasi. Berdasarkan mandat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU hasil Muktamar Jombang, posisi LP Ma'arif NU kian diperkokoh sebagai benteng utama pembentukan karakter peserta didik yang berlandaskan doktrin Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) An-Nahdliyah, guna melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan komitmen kebangsaan.

Akar Historis & Latar Belakang Pendirian LP Ma'arif NU

Kondisi Sosio-Religius dan Pendidikan Islam Awal Abad ke-20

Sejarah berdirinya LP Ma'arif NU tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosio-religius dan politik pendidikan di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Sebagaimana dianalisis secara kritis oleh Hafizh Haikal Amrullah dalam kajian sejarah pendidikan, penetapan Politik Etis oleh pemerintah kolonial Belanda memicu lahirnya sistem pendidikan Barat yang bersifat sekuler dan sama sekali tidak mengajarkan ilmu keagamaan. Di sisi lain, lembaga pendidikan Islam tradisional seperti pesantren pada mulanya cenderung mengisolasi diri dari ilmu-ilmu umum sebagai bentuk resistensi terhadap penetrasi budaya kolonial.

Siklus ini menciptakan "dikotomi pendidikan" yang tajam antara ilmu agama dan ilmu umum. Ketika kelompok Islam modernis dan reformis mulai memperkenalkan sistem madrasah serta mengkritik pesantren sebagai institusi yang kurang efektif menghadapi zaman, para ulama tradisionalis tergerak untuk melakukan pembaruan pendidikan tanpa mencabut akar tradisi keilmuan Islam. Sejarawan NU Ayung Notonegoro mencatat gundahnya K.H. Abdul Wahab Hasbullah menyaksikan penurunan jumlah santri di Surabaya, Jombang, Sidoarjo, dan Mojokerto akibat kelalaian dalam merespons tuntutan zaman.

Kesadaran kolektif untuk memoderasi dan mengorganisasi pendidikan Islam telah bersemi melalui tiga pilar gerakan perintisan sebelum NU berdiri pada 31 Januari 1926:

  • Nahdlatut Tujjar (1918): Gerakan penguatan ekonomi kerakyatan.
  • Tashwirul Afkar (1922): Kawah candradimuka keilmuan, diskusi kebangsaan, dan budaya.
  • Nahdlatul Wathan (1916/1924): Gerakan pendidikan berwawasan kebangsaan yang mempelopori pendirian madrasah-madrasah berorganisasi modern.

Tokoh-Tokoh Kunci, Gagasan Awal, dan Dinamika Pendirian

Gagasan spesifik untuk membentuk badan khusus pendidikan di dalam struktur Hoofdbestuur Nahdlatul Oelama (HBNO) pertama kali diusulkan oleh K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Beliau memandang perlunya departementasi resmi agar inovasi sistem pembelajaran tutorial dan integrasi mata pelajaran umum yang telah dirintis di Pesantren Tebuireng Jombang dapat direplikasi secara masif ke pesantren dan madrasah lainnya.

Menanggapi usulan tersebut, Rais Akbar Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy'ari menginstruksikan tiga tokoh pemuda kunci NU untuk merumuskan konsep dasarnya. Ketiga tokoh pendiri (founding fathers) Ma'arif tersebut adalah:

Potret K.H. Abdul Wahid Hasyim.
(wikimedia.org)
  • K.H. A. Wahid Hasyim: Putra Rais Akbar yang saat itu berusia muda namun telah menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam memadukan kurikulum pesantren dengan bahasa asing (Inggris dan Belanda) serta ilmu umum.
  • K.H. Mahfudz Shiddiq: Tokoh muda bertalenta dari Jember, organisatoris piawai, perumus konsep Mabadi Khaira Ummah, dan pengasuh media majalah NU.
  • K.H. Abdullah Ubaid: Tokoh pemuda penggerak Nahdlatul Wathan dan pendiri BANO/Ansor yang memiliki pengalaman luas dalam pengelolaan madrasah klasikal.

Dalam rekam sejarah kelembagaan yang dihimpun oleh Z. Arifin Junaidi, dijelaskan bahwa ketiga tokoh ini menggelar pertemuan konsolidasi pada awal September 1929 di Kantor HBNO, Jalan Bubutan Kawatan No. 16, Surabaya. Hasil rumusan mereka dibawa ke forum Muktamar NU ke-4 di Semarang pada 17–20 September 1929. Pada tanggal 19 September 1929, Muktamar secara resmi mengesahkan pembentukan badan khusus pendidikan yang diberi nama Ma'arif, serta mengangkat K.H. Abdullah Ubaid sebagai Ketua Ma'arif yang pertama.

Meski demikian, dalam perspektif historiografi kritis sebagaimana diulas oleh Ayung Notonegoro, perjalanan kelembagaan Ma'arif mengalami evolusi secara bertahap melalui beberapa 'idaran' atau fase. Struktur awal Bagian Urusan Pengajaran HBNO tercatat disahkan kembali dalam Muktamar VII di Bandung pada 13 September 1932 dengan menempatkan K.H. M. Hasyim Asy'ari sebagai Rais, K.H. A. Wahid Hasyim dan K.H. Bisri Syansuri sebagai A'dla, K.H. Abdullah Ubaid sebagai Katib, dan K.H. Dimyathi bin Abdul Karim Solo sebagai Mundzir.

Fase Perkembangan & Transformasi Kelembagaan dari Masa ke Masa

Fase Pra-Kemerdekaan dan Eliminasi Dikotomi Pendidikan (1929–1945)

Pasca pengesahan Muktamar Semarang 1929, LP Ma'arif mulai menata jenjang sekolah dan madrasah secara terstruktur. Pada tahun 1935, NU merintis sistem klasikal di luar pesantren yang terbagi menjadi dua kategori utama:

  1. Madrasah Umum: Mencakup 13 tingkatan kelas, yaitu Awwaliyah (2 tahun), Ibtida'iyah (3 tahun), Tsanawiyah (3 tahun), Mu'allimin Wustha (2/3 tahun), dan Mu'allimin Ulya (3 tahun).
  2. Madrasah Ikhtishashiyyah (Vokasi/Kejuruan): Meliputi bidang Qudlat (hukum/peradilan), Tijarah (perdagangan), Nijarah (pertukangan), Zira'ah (pertanian), serta Fuqara' (sekolah khusus warga miskin).

Puncak pembaruan kurikulum terjadi ketika K.H. A. Wahid Hasyim mendirikan Madrasah Nidzamiyah di Tebuireng pada tahun 1935 dan mematangkannya dalam Konferensi Besar Ma'arif menjelang Muktamar XIII di Menes tahun 1938\. Beliau secara berani memasukkan 70% mata pelajaran umum (matematika, sains, geografi, sejarah) dan 30% mata pelajaran agama, serta mengajarkan bahasa Belanda dan Inggris. Terobosan ini berhasil meruntuhkan dinding dikotomi ilmu agama dan ilmu umum dalam pendidikan Islam.

Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), perkumpulan NU sempat dibubarkan oleh otoritas militer Jepang. Namun, para ulama Ma'arif melanjutkan advokasi pendidikan melalui Majlis Islam A'la Indonesia (MIAI), Shumubu, dan Masyumi, hingga akhirnya NU diizinkan aktif kembali pada September 1943\.

Fase Pasca-Kemerdekaan, Penataan Struktur, dan Banom Otonom (1945–1965)

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, Muktamar NU ke-16 di Purwokerto pada tahun 1946 menjadi tonggak awal penataan kembali pendidikan nasional. Dalam Khutbah Iftitahnya, Rais Akbar K.H. M. Hasyim Asy'ari menyerukan: "Kita harus memusatkan segala perhatian untuk mendidik orang-orang kita, dan melatih anak-anak kita hingga cakap bagi kehidupan di masa yang akan datang di dalam segala lapangannya...".

Peran LP Ma'arif semakin strategis tatkala K.H. A. Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama Republik Indonesia pada tahun 1950\. Beliau menerbitkan Peraturan Pemerintah tertanggal 20 Januari 1950 yang mewajibkan pengajaran agama di sekolah umum negeri dan swasta, mendirikan Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA), Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), serta menginisiasi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang menjadi cikal bakal IAIN dan UIN di Indonesia.

Dalam periode ini, LP Ma'arif NU juga melahirkan berbagai organisasi otonom pendukung yang tumbuh dari rahim Ma'arif:

  • IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama): Didirikan pada 24 Februari 1954 di Semarang saat Konbes LP Ma'arif NU.
  • IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama): Didirikan pada 2 Maret 1955 di Malang atas konsultasi dengan Ketua PB Ma'arif K.H. M. Syukri Ghazali.
  • PERGUNU (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama): Dirintis dalam Kongres Ma'arif 1952 dan resmi berdiri pada 1 Mei 1958 di Surabaya.
  • PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia): Berawal dari Departemen Perguruan Tinggi IPNU dan dideklarasikan pada 17 April 1960 di Surabaya.

Untuk mengantisipasi Penetapan Presiden (Penpres) No. 7 Tahun 1959 saat NU menjadi partai politik, Muktamar NU ke-22 di Jakarta pada Desember 1959 secara resmi menetapkan LP Ma'arif NU sebagai Badan Otonom (Banom) yang bersifat non-politik agar dapat leluasa mengelola kegiatan pendidikan. Pada dekade 1960-an, LP Ma'arif juga merintis Perguruan Tinggi NU (PTNU) seperti Fakultas Hukum dan Ekonomi NU di Bandung, Kuliyatul Qadla di Solo, dan Fakultas Tarbiyah wat Ta'lim di Malang (cikal bakal UNISMA dan Universitas Sunan Giri).

Fase Orde Baru hingga Era Modernisasi Kontemporer

Pasca Pemilu 1971 pada era Orde Baru, sekolah-sekolah Ma'arif sempat mengalami tekanan politik sehingga beberapa lembaga menyembunyikan identitas "NU" atau mendirikan yayasan independen seperti Yayasan Pendidikan dan Penyiaran Islam (YAPPI) di Purbalingga. Namun, kondisi ini membaik seiring lahirnya Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri (Menteri Agama, Mendikbud, dan Mendagri) pada tahun 1975 yang secara resmi mengakui kesetaraan ijazah dan status madrasah dengan sekolah umum nasional.

Sebagaimana diuraikan dalam dokumen PBNU mengenai perjalanan sejarah organisasi, penataan kelembagaan modern dimantapkan dalam dua muktamar bersejarah:

  1. Muktamar NU ke-27 di Situbondo (1984): Menegaskan posisi LP Ma'arif sebagai pelaksana operasional lapangan di bidang pendidikan seiring keputusan Kembali ke Khittah 1926.
  2. Muktamar NU ke-28 di Yogyakarta (1988): Mengeliminasi duplikasi kewenangan dengan menghapus "NU Bagian Pengajaran" dan menetapkan LP Ma'arif NU sebagai wadah tunggal pengelola pendidikan formal NU.

Berdasarkan keputusan Muktamar NU ke-32 di Makassar dan Muktamar ke-33 di Jombang, wewenang LP Ma'arif NU difokuskan pada penanganan pendidikan dasar dan menengah (SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA), sedangkan tata kelola perguruan tinggi dikoordinasikan melalui Lembaga Pendidikan Tinggi NU (LPTNU).

Kontribusi Strategis LP Ma'arif NU bagi Pendidikan Nasional

Penguatan Karakter Moderasi Beragama Berbasis Aswaja An-Nahdliyah

LP Ma'arif NU memiliki kontribusi tak ternilai dalam membangun arsitektur karakter bangsa yang inklusif dan toleran. Dalam penelitian mengenai eksistensi lembaga Ma'arif yang ditulis oleh Suharni Polem dan tim, ditegaskan bahwa LP Ma'arif NU bertindak sebagai benteng moral (moral bulwark) yang menginternalisasikan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah:

  • Tawasuth: Bersikap moderat dan berada di jalur tengah.
  • Tawazun: Seimbang dalam menyelaraskan hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan sesama manusia (hablum minannas).
  • Tasamuh: Toleran terhadap perbedaan suku, agama, dan budaya.
  • 'Adalah: Bersikap adil dan menjunjung tinggi kebenaran.

Melalui kurikulum ke-NU-an dan Aswaja, LP Ma'arif secara aktif menjalankan program deradikalisasi sekolah dan menanamkan komitmen nasionalisme sejak dini. Sebagaimana dijelaskan dalam riset historiografi pendidikan Islam, strategi ini diwujudkan melalui penghormatan bendera Merah Putih, pembacaan lagu Indonesia Raya, dan pengumandangan Mars Subbanul Wathon di seluruh satuan pendidikan Ma'arif. LP Ma'arif NU juga menyelaraskan keilmuan pesantren (qudwah hasanah kiai/guru, kajian turats/kitab kuning, dan metode bahtsul masa'il) dengan metodologi pedagogi modern.

Digitalisasi, Inovasi Pembelajaran, dan Kesejahteraan Sosial

Menghadapi tantangan abad ke-21, LP Ma'arif NU terus mengakselerasi transformasi digital dan manajemen mutu. Sebagaimana dirumuskan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LP Ma'arif NU, terdapat pilar-pilar strategis pengembangan madrasah dan sekolah unggul:

  1. Penyusunan cetak biru (blueprint) Sistem Pendidikan NU terpadu.
  2. Digitalisasi manajemen madrasah, pengembangan media pembelajaran berbasis AI, serta penguatan literasi digital dan numerasi.
  3. Pelaksanaan inovasi kurikulum seperti Deep Learning, Love Curriculum (Kurikulum Cinta), serta deradikalisasi anti-bullying.
  4. Standarisasi dan penerbitan Kurikulum Aswaja Nasional.
  5. Peningkatan kompetensi, kualifikasi, dan kesejahteraan pendidik melalui pelatihan masif.

Dari dimensi kesejahteraan sosial (social welfare), LP Ma'arif NU menjalankan fungsi governance agent dan pelayanan inklusif. Dengan memanfaatkan pola pembiayaan multipihak (BOS, swadaya masyarakat, dan dukungan terpusat PBNU), Ma'arif mampu menyediakan akses pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke bawah di wilayah perdesaan, pinggiran, hingga wilayah minoritas Muslim seperti di Kota Gunungsitoli, Pulau Nias.

Prospek Masa Depan LP Ma'arif NU

Refleksi 97 Tahun Perjalanan

Selama 97 tahun berkiprah, Lembaga Pendidikan Ma'arif NU telah bertransformasi dari sekadar gagasan departementasi HBNO menjadi salah satu jaringan pendidikan Islam terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. LP Ma'arif NU berhasil membuktikan keunggulannya dalam meruntuhkan dikotomi pendidikan, menyelaraskan tradisi keilmuan pesantren dengan kurikulum nasional, serta menjadi garda terdepan dalam merawat moderasi beragama dan mengawal NKRI.

Peta Jalan Abad Kedua NU dan Arsitektur Pendidikan Masa Depan

Menyongsong abad kedua Nahdlatul Ulama, LP Ma'arif NU mengusung visi "Merawat Wawasan, Membangun Martabat" serta "Membangun Pendidikan Unggul untuk Peradaban Dunia yang Berkelanjutan". Dalam konteks ini, satuan pendidikan Ma'arif dirancang untuk menerapkan empat pilar lingkungan belajar yang membahagiakan:

  • Having: Jaminan keamanan fisik, kenyamanan sarana prasarana, dan fasilitas yang memadai.
  • Loving: Suasana pembelajaran yang dipenuhi rasa kasih sayang antara guru dan peserta didik.
  • Being: Ruang eksplorasi untuk mengaktualisasikan bakat, minat, dan potensi unik setiap siswa.
  • Keabadian (Spiritual): Pembekalan spiritualitas berlandaskan Aswaja agar siswa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Melalui integrasi kecerdasan buatan (AI), kurikulum yang adaptif, dan penguatan mutu terstandar, LP Ma'arif NU siap mencetak SDM unggul yang berdaya saing global tanpa kehilangan akar budayanya.

Daftar Bacaan

Abdullah, A. F. A., Iskandar, M., & Rahman, M. H. Kontribusi Nahdlatul Ulama terhadap eksistensi pendidikan di Indonesia 1929-1973\. NAHNU: Journal of Nahdlatul Ulama and Contemporary Islamic Studies, 2(1), 1–18.

Amrullah, H. H. Penghapusan pendidikan dikotomis: Lembaga Pendidikan Ma'arif tahun 1938-1975 (Skripsi tidak diterbitkan). Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.

Fathih, M. A., & Amrullah, A. M. K. Model pengelolaan dan problematika di Lembaga Madrasah Ma'arif NU. Ma'arif Journal of Education, Madrasah Innovation and Aswaja Studies (MJEMIAS), 2(1), 12–25.

Junaidi, Z. A. LP Ma'arif NU dari masa ke masa. PW LP Ma'arif NU Jawa Timur / LP Ma'arif NU Trenggalek.

Notonegoro, A. Menelusuri ulang sejarah hari lahir LP Ma'arif NU. NU Online.

Notonegoro, A. Sejarah LP Ma'arif NU (1): Jejak-jejak perintisan. NU Online.

Notonegoro, A. Sejarah LP Ma'arif NU (2): Bermula dari penataan organisasi. NU Online.
NUOKe Kebumen. Sejarah LP Ma'arif NU: Jejak awal, muktamar, dan perannya. Portal Resmi PCNU Kebumen.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Sejarah | LP Ma'arif NU PBNU. Laman Resmi PBNU.
Polem, S., Budianti, Y., & OK, A. H. The existence of the Ma'arif Educational Institution (LP Ma'arif) of Nahdlatul Ulama in the City of Gunungsitoli. Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan, 20(1), 1–15.

TVNU Televisi Nahdlatul Ulama. Lembaga Pendidikan Ma'arif NU (LP Ma'arif): The Choice [Video]. YouTube / NU Online.

TVNU Televisi Nahdlatul Ulama. 🔴 (LIVE) Rakornas LP Ma'arif NU [Video]. YouTube.

TVNU Televisi Nahdlatul Ulama. 🔴 (LIVE) Pembukaan Rakernas LP Ma'arif NU PBNU [Video]. YouTube.

TVNU Televisi Nahdlatul Ulama. 🔴 (LIVE) Kick Off Rangkaian Harlah LP Ma'arif NU [Video]. YouTube.

Widodo, S. A. Scientific framework of Nahdlatul Ulama education and its contribution to the development of national education. EDUKASIA ISLAMIKA: Jurnal Pendidikan Islam, 6(2), 244–272.

Yupa: Historical Studies Journal. The role of Ma'arif Nahdlatul Ulama educational institutions in the development of Islamic education in Indonesia (1926-1959). Yupa: Historical Studies Journal, 8(1), 203–210.
Abdul Arif
Abdul Arif Meniti karir sebagai jurnalis sejak 2009 di SKM Amanat. Pernah berkontribusi untuk Tribun Jateng, beritagar.id, dan Ayosemarang.com. Saat ini aktif sebagai dosen Teknologi Pendidikan UNNES dan pengurus LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah Divisi Literasi, Numerasi dan Pendidikan Inklusi.

Posting Komentar